Dear Diary: Tentang Luka yang Tidak Pernah Aku Ceritakan

Aku tidak tahu kapan tepatnya... aku mulai terbiasa menyimpan semuanya sendiri.

Mungkin sejak aku belajar bahwa tidak semua orang benar-benar punya waktu untuk mendengar. Atau sejak aku sadar bahwa beberapa cerita, meskipun diceritakan, tetap tidak akan mengubah apa pun.

Jadi aku diam.

Bukan karena aku tidak punya rasa sakit. Tapi karena aku tidak tahu harus meletakkannya di mana.

Ada versi kecil dari diriku yang masih aku ingat sampai sekarang.

Dia tidak banyak bicara. Bukan karena dia tenang, tapi karena dia sudah terlalu sering merasa tidak perlu menjelaskan apa pun. Dia belajar cepat—terlalu cepat untuk anak kecil—bahwa menangis pun kadang tidak membuat seseorang datang.

Jadi dia berhenti berharap.

Dan anehnya, itu membuatnya terlihat “kuat”.

Padahal sebenarnya dia hanya lelah.

Aku sering berpikir, mungkin aku tumbuh bukan dengan pelan, tapi dengan terburu-buru.

Ada masa di mana aku ingin seperti anak-anak lain—yang bisa meminta, bisa mengeluh, bisa marah tanpa takut dianggap berlebihan.

Tapi aku tidak punya banyak ruang untuk itu.

Jadi aku menggantinya dengan bertahan.

Aku jadi orang yang “baik-baik saja” bahkan saat sebenarnya tidak baik sama sekali.

Sekarang, ketika aku melihat ke belakang, aku tidak marah pada siapa pun.

Aku hanya… mengerti.

Mengerti kenapa aku jadi orang yang lebih suka sendiri. Mengerti kenapa aku lebih nyaman di dalam ruangku sendiri daripada harus menjelaskan diri ke dunia luar. Mengerti kenapa aku begitu menghargai hal-hal kecil, bahkan barang-barang yang bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa.

Mungkin karena itu satu-satunya hal yang tidak pernah meninggalkanku.

Untuk aku yang dulu,

kalau kamu bisa membaca ini, aku ingin bilang sesuatu.

Kamu tidak berlebihan. Kamu tidak terlalu sensitif. Kamu hanya belum pernah dipeluk dengan cara yang tepat.

Dan semua cara kamu bertahan dulu… itu bukan kesalahan.

Itu satu-satunya cara yang kamu tahu untuk tetap hidup.

Aku tidak bisa kembali ke masa itu. Aku juga tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.

Tapi aku bisa melakukan satu hal sekarang:

Aku bisa berhenti mengabaikan diriku sendiri.

Aku bisa mulai mendengarkan perasaan yang dulu aku paksa diam. Aku bisa memberi ruang untuk sedih tanpa harus merasa bersalah. Aku bisa belajar bahwa tidak semua luka harus disembunyikan agar aku terlihat kuat.

Dan mungkin, di titik ini, “kuat” bukan lagi berarti tidak pernah jatuh.

Tapi tetap memilih untuk berdiri, bahkan setelah tahu rasanya patah.

Untuk aku yang dulu, terima kasih sudah bertahan sejauh ini.

Aku tahu itu tidak mudah.

Tapi lihat… kita masih di sini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup Nyaman & Cerdas di Era Modern: Tren Hunian Kost dan Tips Memilih Tempat Tinggal Ideal untuk Mahasiswa & Pekerja Muda Oleh: Intan Tania

Mandiri Itu Bukan Berarti Sendiri