Dear Diary: Tentang Luka yang Tidak Pernah Aku Ceritakan
Aku tidak tahu kapan tepatnya... aku mulai terbiasa menyimpan semuanya sendiri. Mungkin sejak aku belajar bahwa tidak semua orang benar-benar punya waktu untuk mendengar. Atau sejak aku sadar bahwa beberapa cerita, meskipun diceritakan, tetap tidak akan mengubah apa pun. Jadi aku diam. Bukan karena aku tidak punya rasa sakit. Tapi karena aku tidak tahu harus meletakkannya di mana. Ada versi kecil dari diriku yang masih aku ingat sampai sekarang. Dia tidak banyak bicara. Bukan karena dia tenang, tapi karena dia sudah terlalu sering merasa tidak perlu menjelaskan apa pun. Dia belajar cepat—terlalu cepat untuk anak kecil—bahwa menangis pun kadang tidak membuat seseorang datang. Jadi dia berhenti berharap. Dan anehnya, itu membuatnya terlihat “kuat”. Padahal sebenarnya dia hanya lelah. Aku sering berpikir, mungkin aku tumbuh bukan dengan pelan, tapi dengan terburu-buru. Ada masa di mana aku ingin seperti anak-anak lain—yang bisa meminta, bisa mengeluh, bisa marah tanpa takut dianggap berle...